Tampilkan postingan dengan label News Clip/ Kliping Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News Clip/ Kliping Berita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 April 2007

Temuan Kerangka Manusia di Bukit Kerang Aceh Seperti Bayi Di Kandungan

Jum'at, 13 April 2007 | 00:50 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Arkeolog menyatakan bahwa posisi kerangka manusia yang terlipat di situs-situs bukit kerang berhubungan dengan kepercayaan tentang kehidupan setelah kematian. "Mereka melipat jenazah sama seperti mengembalikan manusia ke dalam kandungan, hidup lagi," kata Lukas Partanda Koestoro, Kepala Balai Arkeologi Medan kepada Tempo pada selasa lalu.

Penguburan jenazah berlipat seperti itu ditemukan oleh arkeolog dari Medan di situs Bukit Kerang Pangkalan di Aceh Tamiang, pada awal April lalu. Selain kerangka manusia, mereka juga menemukan peralatan batu, gerabah, dan tulang.

Harry Truman Simanjuntak, peneliti di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, mengatakan penguburan seperti itu adalah tren pada masa Holosen di Asia Tenggara. Pola itu tersebar mulai dari Semenanjung Malaysia sampai ke Pulau Jawa Indonesia.

Di situs Gua Cha, Kelantan, Malaysia, yang diperkirakan berusia 10 ribu tahun BP, ditemukan kerangka seorang pemuda yang terlipat berbantalkan lempengan. Demikian pula di Niah, Malaysia, Gua Kepah, Pulau Penang, dan situs Gua Duyong di Pulau Palawan, Filipina Selatan.

Di Indonesia, selain di Aceh Tamiang, model semacam itu ditemukan pula di situs Gua Lawa, Sampung, Jawa Timur. Kerangka-kerangka itu ditemukan dengan posisi tangan terlipat ke bawah dagu atau menutup mata.

Di Gua Batu Buli, Desa Randu, Muarauya, Tabalong, Kalimantan Selatan, tujuh tahun lalu ditemukan kerangka manusia yang diperkirakan dari masa 7.000-10.000 tahun BP. Kerangka itu dalam posisi kepala menengadah dan kaki terlipat serta telapak tangan menyentuh pergelangan kaki atau menyilang di pinggul.

Kerangka-kerangka itu umumnya ditemukan bersama bubuk oker (bijih besi/hematit yang bercampur dengan tanah liat dan pasir berwarna kekuningan, jingga/kemerahan dan coklat). Posisi kerangka berlipat bak bayi dalam kandungan.

DEDDY SINAGA | HAMBALI BATUBARA

Dapur Kerang Tersebar Sampai Eropa

Jum'at, 13 April 2007 | 00:29 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Harry Truman Simanjuntak dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengatakan situs bukit kerang terjadi oleh buah karya manusia (bukan terbentuk alami). “Lantaran ditemukan pula artefak dan ekofak di dalamnya,” kata dia kepada Tempo kemarin.

Artefak dan ekofak itu antara lain berbagai peralatan manusia dari batu, gerabah, dan tulang. Selain itu juga ditemukan bekas permukiman dan tulang belulang manusia.

Bukit kerang adalah nama pemberian masyarakat yang tinggal di sekitar situs. Para Arkeolog umumnya menyebut bukit itu dengan istilah kjokken moddingger atau kitchen midden (dapur tempat pembuangan sampah hasil konsumsi manusia tiap-tiap hari).

Bukit seperti itu tak hanya ditemukan tersebar di Asia Tengah (Vietnam dan Cina) ke Asia Tenggara (Thailand, Malaysia, dan Indonesia), tapi juga ada di Eropa (Swedia dan Denmark).

Di Indonesia, tinggi bukit kerang diperkirakan mencapai 26 sampai 27 meter: empat sampai lima meter menyembul di permukaan tanah, sisanya ada di bawah tanah. Kerang-kerang yang menumpuk itu berasal dari kelas gastropoda (umumnya spesies Thiaridae) dan pelecypoda (umumnya Corbiculidae).

DEDDY SINAGA

Manusia dari Bukit Kerang

Jum'at, 13 April 2007 | 00:41 WIB

TEMPO Interaktif, Medan:
Sehamparan sawah itu tak lagi terawat setelah banjir menghantamnya pada akhir tahun lalu. Pematangnya sudah dikepung rerumputan liar. Tak jauh dari sana, sebuah bukit memanjang dari utara ke selatan.

Bukit yang ada di Kampung Pangkalan, Aceh Tamiang, Nanggroe Aceh Darussalam itu, disebut bukit kerang. Bukit itu memang terbentuk dari sisa-sisa cangkang yang menggunduk, bercampur dengan tanah dan bebatuan.

Untuk mencapai bukit dibutuhkan perjalanan panjang. Dari Sungai Liput, 180 kilometer dari Kota Medan, Sumatra Utara, perjalanan dilanjutkan dengan sepeda motor menuju sebuah perkebunan di Simpang Semadam sejauh 5 kilometer. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer.

Ke sanalah sejumlah arkeolog dari Balai Arkeologi Medan dan mahasiswa antropologi dari Universitas Malikulsaleh, Lhokseumawe, melakukan penggalian pada akhir Maret lalu. Di bukit angker—menurut warga setempat—itu mereka menemukan tiga kerangka manusia.

Ketut Wiradyana, pemimpin penggalian, mengatakan penggalian pertama pada 1998 dilakukan di bukit itu berdasarkan informasi penggali kapur yang kerap menemukan tulang belulang manusia. Pada penggalian di empat titik mereka menemukan gerabah (peralatan terbuat dari tanah liat), alat batu, dan kerangka manusia.

Kerangka manusia itu berada dalam posisi terlipat. Tangannya ditekuk dan telapaknya ada di dahi. Kakinya juga ditekuk dengan lutut di depan perut. Posisi ini, menurut Ketut persis seperti bayi dalam kandungan.

"Karena kondisi (Aceh) yang tidak kondusif, penelitian ditinggalkan sementara dan beralih ke Nias," kata Ketut kepada Tempo di Balai Arkeologi Medan, pada selasa lalu.

Lalu pada 27 Maret sampai 3 April lalu arkeolog itu kembali ke Tamiang. Selain peralatan batu dan gerabah yang sama dengan penggalian sebelumnya, mereka juga menemukan tiga tengkorak manusia di kedalaman 50 sentimeter. Salah satunya masih menyisakan tulang lengan yang tertekuk.

Setelah dibandingkan dengan situs serupa di Hinai, Langkat, tim itu lalu memperkirakan peninggalan arkeologis itu berasal dari masa 5.000 sampai 7.000 tahun Before Present (penanggalan berdasarkan perhitungan radiokarbon). Ini tergolong pada masa Holosen berdasarkan pembabakan geologis.

Untuk memastikan lebih lanjut, mereka telah meminta bantuan Institut Penelitian untuk Pembangunan (Institut de recherche paur le developpement) dari Prancis.

Ketut mengatakan ada kesamaan antara temuan kerangka tahun 1998 dan yang terbaru: sama-sama berorientasi ke selatan. Dia menduga itu ada kaitannya dengan kepercayaan masyarakat Tamiang bahwa arah Utara-Selatan bukanlah arah kehidupan, sebagaimana Timur-Barat. "Jadi ada kesinambungan konsep religi dengan masyarakat Tamiang sekarang," katanya.

Arkeolog itu juga menemukan tanda hematit (tanda merah atau coklat yang dibuat dari batuan lembek) di tengkorak-tengkorak itu.

Lukas Partanda Koestoro, Kepala Balai Arkeologi Medan, mengatakan situs-situs bukit kerang adalah hal yang jamak di pesisir timur pulau Sumatra. Menurutnya situs semacam itu mencirikan kebudayaan Hoabinhian dari daerah Hoabinh di Vietnam.

Ciri kebudayaan itu adalah masyarakatnya hidup dari kerang-kerangan dan menggunakan alat batu yang khas yakni batu lonjong monofasial (dipahat satu sisi) yang disebut Sumatralith. Ciri lainnya; mereka telah mendirikan rumah panggung.

"Ada asumsi manusia berimigrasi dari Hoabinh ke kepulauan di Asia Tengara termasuk Sumatra," katanya.

Hal ini dibenarkan Harry Truman Simanjuntak, peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Menurutnya, manusia pendukung kebudayaan Hoabinhian mengembara dari utara dan tiba di Pulau Sumatra pada era Holosen (berlangsung mulai 11.000 tahun BP).

Adapun penguburan dengan jenazah berlipat itu, “Adalah mode pada masa Holosen di Asia Tenggara,” katanya kepada Tempo kemarin.

Praktek penguburan semacam itu berkembang sampai ke timur Indonesia. Ini ada kaitannya dengan manusia yang mendiami kawasan Asia Tenggara pada masa itu, yakni ras Austromelanesid. Ras ini berkembang sampai ke manusia Papua dan sebagian wilayah timur Indonesia pada saat ini.

Tapi kebudayaan itu, kata Harry, hanya tersebar sampai di pesisir timur Sumatra saja. “Berdasarkan pengujian, mereka tak sampai ke Pulau Jawa,” katanya.

Terhentinya penyebaran itu, menurut Harry, diduga akibat terganggunya ketersediaan sumber daya laut sehingga mengganggu kelangsungan hidup mereka. “Yang bertahan dan berkembang di Indonesia justru pendukung kebudayaan serpih,” katanya.

DEDDY SINAGA | HAMBALI BATUBARA | SANGKHAKALA | WIKIPEDIA

Kamis, 12 April 2007

Nias Baru Masuki Zaman Megalitik Pada 1600

Kamis, 12 April 2007 | 00:52 WIB

TEMPO Interaktif, Medan:
Penemuan sebuah situs arkeologis di Nias, Sumatera Utara, menyatakan bahwa kawasan itu baru memasuki zaman megalitikum (batu besar) pada tahun 1600. “Daerah lain di Indonesia zaman itu sudah masuk zaman kolonial, sedangkan di Nias memasuki kebudayaan batu," kata Ketut Wiradyana, Peneliti Balai Arkeolaogi Medan kepada Tempo, di kantornya kemarin.

Situs itu adalah Tundrumbaho di Kecamatan Gomo, Nias Selatan. Di sana ditemukan sebuah perkampungan dengan temuan serta berupa alat-alat masak dari gerabah (tanah liat), meja batu, tiang batu, dan belulang binatang. Masyarakat Nias umumnya menganggap nenek moyang mereka berasal dari tempat ini.

Temuan ini diperkirakan berasal dari tahun 1600 Masehi. Penanggalan ini diperkuat pula oleh Lembaga penelitian Prancis, Institut de Recherche Paur le developpement.

Ketut mengatakan, temuan itu membuktikan bahwa kawasan Nias sejak dahulu sudah terisolir. Penemuan benda-benda arkeologis yang ada memperlihatkan tak adanya sentuhan budaya dari luar. Pada masa itu, daerah lain malah sudah menganut agama tertentu.

HAMBALI BATUBARA

Selasa, 20 Februari 2007

Jejak Manusia Pertama Sumatera Utara Ada di Pulau Nias

Sabtu, 25 November 2006 | 04:33 WIB

TEMPO Interaktif, Medan:
Penelitian Balai Arkeologi Medan menguak jejak peradaban manusia pertama di Sumatera Utara. Jejak kehadiran manusia tergambar dari temuan arkeologis seperti sisa-sisa vertebrata (tulang dan gigi).

Lokasinya di sebuah goa pada ketinggian 175 meter di atas permukaan laut di Desa Lolowonu Niko'otano, Kecamatan Gunung Sitoli, Kabupaten Nias.

Temuan lain dari perut goa yang dikeruk hingga kedalaman 4 meter, yaitu alat-alat batu yang berkarakter paleolitik, di antaranya serpih batu, batu pukul dan pipisan dan mata panah dari batu dengan panjang 2,5 sentimeter.

Bukti peradaban masa lalu yang paling menarik adalah penemuan batu andesit berbentuk lonjong dengan karakter sebagai pemukul, batu pukul dan alat atau spatula berbahan tanduk dan cangkang moluska.

Analisis yang dilakukan terhadap penemuan itu, menurut peneliti Balai Arkeologi Medan Ketut Wiradnyana, sangat absolut. Hasilnya menakjubkan, sudah ada manusia yang tinggal di Nias, khususnya di Goa Togi Ndrawa, Desa Lolowonu Niko'otano sejak 12 ribu tahun silam dan berlangsung terus-menerus hingga berkisar 1150 Masehi.

Umur kehidupan manusia pertama di Pulau Nias itu dihitung dengan metode radio carbon atas sampel moluska. Manusia pertama yang tinggal di dalam goa memanfaatkan biota marin khususnya yang berada pada kawasan mangrove.

Hal itu dapat dibuktikan, kata Ketut, dari tumpukan cangkang moluska yang banyak ditemukan dari dalam lobang penggalian situs.

Budaya yang ada pada manusia pertama di Nias itu sama persis dengan budaya prasejarah yang terdapat di wilayah Vietnam (Hoabinh).

Kemungkinan lain dapat ditarik jika masa paleolitik di Pulau Nias memiliki waktu yang relatif sama dengan masa Paleolitik di daerah Indonesia (Nusantara) lainnya.

Saat itu migrasi manusia di nusantara sebagian diyakini berasal dari daratan Asia. Manusia masa paleolitik kemudian berkembang cara hidupnya sejalan perkembangan otaknya ke masa mesolitik, neolitik, megalitik sampai sekarang.

SAHAT SIMATUPANG

Assalamu'alaikum, Ya'ahowu, Selamat Datang, Wellcome...

Assalamu'alaikum, Ya'ahowu, Selamat Datang, Wellcome...

Muslim Nias adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat Pulau Nias. Walaupun saat ini Islam di Pulau Nias penganutnya hanya sekitar 4 persen, tetapi sebagai agama yang telah masuk ke Nias sejak abad ke XVI tentu sedikit banyaknya telah memberi pengaruh tersendiri dalam kehidupan masyarakat Nias.

Masyarakat muslim Nias itu sendiri punya keunikan tersendiri, yang adat istiadatnya tidak lepas dari pengaruh budaya asli Nias, walaupun pengaruh budaya Melayu: Aceh dan Minang terasa masih kental.

Sejarah dan tradisi Muslim Nias memang menarik untuk disimak dan penting untuk diketahui, khususnya bagi generasi sekarang dan mendatang.
Melalui WebBlog ini diharapkan dapat menjadi alternatif media informasi dan komunikasi yang mengupas tentang tentang hal-hal tersebut.
Semoga bermanfaat. Wassalam.(YPMN)

Kami menantikan kontribusi anda berupa tulisan/ artikel yang berkaitan atau relevan dengan tujuan blog ini. Silahkan mengirimkannya ke muslim_nias[at]yahoo[dot]com.

Jika menyadur dari sumber lain, harap mencantumkan sumber tulisan, nama penulisnya serta link web sitenya.
YPMN berhak untuk tidak menyajikan tulisan atau komentar yang dianggap tidak relevan dengan tujuan Blog ini.

Isi dan materi tulisan sepenuhnya tanggung jawab para penulisnya.

Google